AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Kawan Serumpun

21 March 2016 - dalam Puisi Oleh azro_el-fib11

Hari itu jumpa dengan keceriaan.

Seorang perempuan cekatan dan riang.

Sambutan hangat terhadap semua yang datang.

Serasa hari itu ada yang spesial.

 

Untaian sapaan dia lontarkan dengan lembut.

Identitas kepemimpinan mulai terpancar.

Jiwa sosial dia jabarkan dalam setiap jumpa.

Rasa menghargai diberikannya begitu indah.

 

Ketika rentetan tugas telah padam. Kata persahabatan tetap terikat.

Terpatri dalam hati dan jiwa.

Saudara serumpun bersejarah sama berjumpa.

 

Gelak tawa menggiring mereka pada indahnya jalinan saling kasih sesama.

Memberi ribuan pengalaman singkat yang begitu berharga.

Baik, cantik, santun dan konyol kadang menjadi cerminan dirinya.

Setiap jumpa mengundang kemesraan persahabatan.

 

Namun setiap pertemuan pasti diakhiri perpisahan.

Walaupun nanti raga tak dapat bertatap.

Senyum tak seindah sebelumnya.

Ini tetap menjadi sejarah indah dua insan manusia.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    20.752